Anjing Hutan Sumatera, Anjing Liar yang Hampir Mirip Serigala

Anjing Hutan Sumatera, Anjing Liar yang Hampir Mirip Serigala
anjing hutan Sumatera

Ada satu ras anjing liar asal Indonesia yang keberadaannya jarang diketahui, hidupnya di pegunungan dan hutan. Namanya adalah anjing hutan Sumatera atau Ajag. Penelitian tentang anjing ini masih sangat terbatas, bahkan jenis ini adalah jenis yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

Ciri-Ciri Anjing Hutan Sumatera

  • Warna coklat kemerahan
  • Bagian leher, bahwa dagu, sampai ujung perut berwarna putih
  • Memiliki ekor panjang
  • Bulu tebal dan kehitaman

Ajag mempunyai lolongan yang jelas dan sangat keras, biasanya hidup dengan kelompoknya yang terdiri sampai 12 ekor, itu tergantung pada lingkungannya. Pada kondisi tertentu, dia bisa hidup sendiri, Ajag adalah pemburu yang menyukai kancil, kelinci, kijang, rusa, dan babi hutan.

Hingga kini, penelitian soal Ajag di Tanah Air masih terbatas. Belum tersedia data pasti tentang populasi anjing ini di Jawa dan Sumatera. Keberadaannya di Jawa pun diketahui ada di Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Halimun Salak, Gede Pangrango, dan Ujung Kulon. Sedangkan di Sumatera sendiri keberadaannya terdeteksi di Kerinci Seblat dan Taman Nasional Gunung Leuser.

  • Pernah Membuat Heboh

Pada akhir Desember 2020, Ajag jadi bahan perbincangan di Kab. Kuningan, Jawa Barat. Dia diduga menjadi penyebab kematian 1 ekor anak sapi dan 15 ekor kambing di Desa Cipondok dan Desa Ciangir.

Tidak hanya di 2 desa, menurut informasi Kepalda Desa Cipondok, Rudiyanto, warganya juga mengalami insiden serupa. Total sebanya 25 kambing mati di desanya.

Ajag bisa bertahan hidup dengan memburu beberapa macam mangsa demi memenuhi keperluan tenaganya. Oleh sebab itu, mempertahankan populasi mangsa juga wajib dilakukan.

“Penelitian lebih lanjut dibutuhkan guna mengetahui hewan apa saja yang suka diburu oleh Ajag, terutama di Pulau Jawa,” ungkap penelitian berjudul ‘Studi Pakan Ajag dengan Fecal Analisis yang dilakukan di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

  • Populasi

Sementara itu, penelitian Anxious Yoga Perdana dengan judul ‘Sebaran Spasial Ajag yang dilakukan di Taman Nasional Baluran’ lewat Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan & Ekowisata, Fakultas Pertanian, Institur Pertanian Bogor, memperlihatkan bahwa Ajag lebih suka berburu dengan cara berkelompok untuk mendapat mangsa besar, seperti halnya Rusa Timor.

Tapi, anjing jenis ini juga bisa berburu secara berpasangan atau sendiri. “Bergantung juga dengan ketersediaan mangsa di lingkungan hidupnya,” tulis Yoga Perdana.

Salah Satu Anjing Survival Saat Ini

Ajag sangat menyukai perburuan kepada mangsa yang hidup, akan tetapi dijumpai juga mereka pernah memakan sisa bangkai babi, rusa, dan hingga banteng.

“Dari hasil pengamatan lapangan, anjing ini selalu ditemukan memangsa hewan hidup, yakni Rusa Timor. Kemudian, kelompok Ajag bakal memakan mangsa buruan yang telah tertangkap itu secara bersama-sama tanpa ada kompetisi.”

Populasi Ajag yang sudah berusia dewasa di habitat alami, berdasarkan IUCN, diprediksi tak lebih dari 2,200 ekor saja, bahkan diperkirakan juga semakin menurun. Salah satu hal yang menjadi penyebab menurunnya populasi ialah adanya stigma masyarakat jika jenis ini adalah satwa merugikan sehingga dijadikan hewan buruan untuk diburu.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan No 106 Tahun 2018 mengenai Jenis Satwa dan Tumbuhan Dilindungi, Ajag adalah ras anjing yang dilindungi.

Nah, demikianlah ulasan tentang anjing hutan Sumatera atau Ajag. Strategi berkelompok adalah skill utama ketika berburu serta bertahan hidup dari Ajag. Hal ini memberi keuntungan kepada spesies satu ini. Semoga bermanfaat!